Rabu, 30 Juni 2010

Ketika Asa Bergantung pada Keberuntungan

Saya ini jadi seorang gibol sejak Piala Dunia 2002 Korsel-Jepang. Saat itu lagi rame-ramenya keluarga saya ngumpul. Ada aba, ada umi, ada mas, dan ada saya di ruang keluarga yang sempit tapi hangat... Rasanya pengen kembali ke masa itu....

Saat itu pertama kalinya saya bersentuhan dengan sepak bola. Gara-gara demam bola, mas saya beli segepok kartu pemain bola lengkap dengan foto dan identitas klubnya. Nah, kartu pertama yang saya sentuh adalah yang bergambar Filippo Inzaghi yang masih berkostum Juventus. Sejak saat itu pula, langsung saya ngefans banget sama yang namanya Inzaghi, walau belakangan saya tahu bahwa sejak 2001, dia sudah nggak di Juve lagi. Bahkan, saking cintanya sama Inzaghi, saya memakai namanya dalam salah satu email saya (milania_inzaghi@yahoo.co.id). Hihihi... Itu juga yang membuat saya cinta mati sama AC Milan, walau dalam keseluruhan kariernya tak hanya dihabiskan di Milan saja, tapi di klub itulah dia meraih kesuksesan.

Sejak 2002 pula saya memutuskan untuk 100% jadi gibol. Saya bersedia jadi Milanisti (sebutan untuk penggemar AC Milan, bahkan saya sampai membuat julukan sendiri: milania, yang artinya Milanisti bernama nia, hehehe.. maksa ya??) dan totally jadi tifosi setia Gli Azzurri (sebutan timnas Italia).

Maka, ketika piala dunia edisi ke- 19 yang dilaksanakan untuk pertama kalinya di benua Afrika, tepatnya di negara Afrika Selatan, tanpa ragu lagi saya menjagokan Itali untuk keluar sebagai juara. Selain karena cinta saya pada Gli Azzurri, status Italia sebagai juara bertahan dengan pelatih dan komposisi tim yang hampir sama dengan empat tahun lalu membuat saya yakin, Italia pasti bisa juara lagi!

Namun, apa yang terjadi sungguhlah di luar dugaan saya dan jauh dari prediksi siapa pun. Di babak kualifikasi grup, banyak tim-tim unggulan dari Eropa yang gagal meraih poin sempurna pada laga perdana. Dimulai dari Prancis yang ditahan imbang oleh Uruguay, kemudian Inggris dipaksa berbagi skor dengan Amerika Serikat akibat blunder sang kiper, Robert Green, lalu Italia yang juga seri melawan Paraguay, dan kekalahan sensasional Spanyol oleh Swiss..

Inilah Piala Dunia.
Selalu ada kisah di setiap perhelatannya. Entah kisah manis atau pahit, inilah Piala Dunia. Kegagalan Prancis untuk lolos di babak knock-out bahkan terjadi di dalam dan di luar lapangan. Italia yang hanya butuh hasil imbang untuk lolos pun dipaksa pulang kampung lebih dini oleh Slovakia pada lada pamungkas dengan skor tipis 2-3.

Yah, inilah Piala Dunia. Apa pun bisa terjadi...

Amerika Latin menjadi zona tersukses pada ajang ini. Meloloskan lima wakilnya ke babak 16 besar yaitu Uruguay, Argentina, Brazil, Paraguay, dan Cile. Berbeda dengan zona Amerika Utara dan Tengah yang hanya dua oleh Meksiko dan Amerika Serikat, zona Asia juga menyumbang dua delegasi lewat Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan benua yang harusnya bergembira dengan adanya penyelenggaraan Piala Dunia kali ini, Afrika, hanya meloloskan satu saja wakilnya yaitu Ghana. Sisanya dari benua Eropa yang diwakili oleh Inggris, Jerman, Belanda, Slovakia, Portugal, dan Spanyol.

Takdir yang menyebabkan Inggris dan Jerman bersua lebih dini. Kenyataan bahwa kegagalan Inggris melenggang ke babak yang lebih jauh ini disebabkan oleh keputusan wasit yang tidak mengesahkan gol Frank Lampard membuat saya berpikir, dalam sepak bola, selain faktor skill dan mental, faktor lain-lain juga harus diperhitungkan. Andai saja waktu itu wasit Larrionda mengesahkan gol itu, tentu ceritanya akan lain.

Yah, lagi-lagi yang bisa saya katakan, inilah sepak bola.
Inilah Piala Dunia.

Sejak babak knock-out dimulai, saya berharap agar ada pertandingan yang berakhir dengan drama adu penalti. Karena jagoan saya Italia sudah tersisih, praktis hanya ada Argentina yang menjadi tumpuan harapan saya. Pasukan Diego Armandi Maradona telah memastikan satu tiket di perempat final setelah menghempaskan Meksiko dengan skor 3-1, walau dengan kontroversial akibat keputusan wasit Rosetti yang mengesahkan gola Tevez yang pertama.

Karena itu, saya pun tenang-tenang saja mengharapkan adanya sebuah drama yang benar-benar mengandalkan faktor mental dan keberuntungan ini. Toh, Argentina udah lolos aja, begitu pikir saya...

Hanya saja, kenapa harapan saya itu baru terkabul ketika laga yang mempertemukan satu-satunya sisa harapan Asia setelah Korsel terjungkal oleh pasukan Uruguay?? Jepang akhirnya dipaksa pulang kampung setelah kalah 3-5 oleh Paraguay setelah dua jam pertandingan tidak ada satu pun gol yang tercipta. Dari pertandingan ini, jelas terlihat bahwa Jepang merupakan tim kuat, yang mampu bersaing dengan negara-negara lain. Hanya keberuntungan saja yang menggagalkan langkahnya setelah tendangan ketiga Jepang oleh Kamano membentur mistar gawang...

Hilanglah sudah satu-satunya peluang Asia untuk berpesta di ajang ini. Hanya negara-negara yang memang kuat secara keseluruhan (baca: skill, mental, dan dewi fortuna) sajalah yang bisa lolos ke babak 8 besar.

Semoga masih ada cerita lagi di Piala Dunia kali ini.
Dan semoga kisah itu tidak hanya bersumber pada keberuntungan semata, demi tercapainya kisah dramatis dan abadi dalam pesta akbar sepak bola sejagad raya ini...

Waka Waka, Africa!!!

Senin, 28 Juni 2010

Happy Milad, Ukh...

28 Juni 2010

Saya menulis di akun facebook saya (http://www.facebook.com/nahaya) bahwa hari ini adalah hari ulang tahun saya. Padahal ultah saya yang sebenarnya itu tanggal 6 Desember 1991. Ini asli, sesuai dengan akta lahir, ijazah, KTP, dan mudah-mudahan SIM (karena saya belum punya SIM).

Lantas, kenapa saya memalsukan identitas saya di sebuah akun sosial yang bisa dilihat banyak orang?? Bahkan banyak teman-teman saya yang tertipu, menuliskan ke pesan dinding saya banyak doa yang intinya ingin ikut memeriahkan hari jadi saya...

Hmmm..
Ada beberapa alasan. Yang pertama, karena hari ini merupakan hari yang bersejarah untuk saya dan kehidupan saya. Pada tanggal 28 Juni 2005, saya mengiyakan ajakan teman sekelas saya untuk berpacaran. Wehehehe... Makkum saja, waktu itu saya masih berada di zaman jahiliyah... Masih kecil, pengen tahu aja rasanya pacaran. Apalagi dia ini orang populer di seantero sekolah...

Dia...
Hanya dia yang pernah ada di hati saya, bersemayam begitu lamanya bahkan sampai sekarang. Sempat ada orang lain yang menggeser posisinya di hati, tapi tak lama. Ketika saya menemukan suatu hal yang membuat ilfeel, perasaan itu tiba-tiba hilang dan hati saya kembali dipenuh oleh dia. Wkwkwk... Saya juga heran, kenapa dia bsia sebegitu bertahannya di sini. Padahal saya tahu banyak sekali kekurangannya, padahal saya tahu nggak akan ada kelanjutan apa-apa pada hubungan kami, padahal saya tahu hal seperti ini bisa membuat saya khawatir akan kebersihan hati saya...

Hmmm....
Sebenarnya saya jahat padanya. Saya itu sedang memanfaatkan dia. Saya menggunakan dia sebagai perisai hati saya dari pesona orang-orang baru di sekitar saya. Dengan adanya dia di dalam hati saya, insya Allah saya akan imun terhadap orang lain. Karena saya bukan seseorang yang bisa menyimpan banyak nama di satu hati.

Alasan kedua, karena saya mempunyai teman-teman kuliah yang sangat sayang pada temannya. Bahkan sangat sayangnya, sampai2 mereka pun rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli hal-hal yang ge petege kayata: telur, kopi, es kacang ijo, tali rafia, tepung, dll. Yap, apalagi kalau bukan untuk disiramkan pada yang lagi ulang tahun. Memang mereka itu menyebalkan!!! Itulah sebabnya saya mengganti hari lahir saya di akun facebook, supaya menghindari keusilan teman-teman. Di facebook kan ada fasilitas reminder untuk orang-orang yang sedang ulang tahun. Ga mungkin mereka bisa mengguyur saya hari ini. Wong saya sekarang sedang di Jombang, kampung halaman tercinta. Kalau Desember besok, entahlah, wallahu a'lam. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka lupa...

Untuk segala doa yang saya terima hari ini, saya pending dulu sampai Desember ya....
Terima kasih atas kebaikan kalian semua...
Senyum hangat saya untuk kalian...
=')

Sabtu, 26 Juni 2010

Selamat menempuh hidup baru, ukh...

Ini nih fotonya Mbak Wi, saudara saya yang mau nikah itu...


Hiks…
Rasanya sedih juga kalau harus kehilangan satu saudara yang akan memulai babak baru dalam kehidupannya. Eh, bukan kehilangan sih… Lebih tepat kalau disebut merelakan. Karena Mbak Wi akan tetap ada di Surabaya karena pekerjaannya memang mengharuskan beliau ada di sana, nomor Mbak Dwi akan tetap aktif seperti yang saya punya, dan rumahnya pun saya akan tahu karena nanti sore saya akan melancong ke sana.


Yang berbeda hanyalah intensitas pertemuan kami yang sebelumnya jarang menjadi sangat jarang. Mengapa saya bilang begitu? Karena saya, si pengacara alias pengangguran banyak acara, lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah (kontrakan saya di Surabaya). Kebanyakan di kampus, entah urusan BEM, urusan UKM, atau urusan ge petege (baca: ga penting) lainnya. Sementara Mbak Wi (nama aslinya Dwi Wulandari), kerja sebagai guru sains di SMP Al-Falah, sebuah full day school ternama di kawasan Rungkut sana. Jadi, beliau baru pulang saat sore menjelang maghrib. Itu pun dalam kondisi yang sepertinya capek (karena saya nggak tahu pasti, beliau nggak pernah cerita juga soalnya…). Karena itu, waktunya di rumah lebih banyak dihabiskan di kamarnya yang berada di belakang, sementara kamar saya ada di depan. Mau sering ketemu gimana, coba?


Satu hal yang pasti akan saya rindukan dari Mbak Wi. Setelah beliau nggak tinggal di rumah yang sama dengan saya, tak ada lagi yang akan rutin menanyakan hal yang sama setiap ba’da isya, “Niake, sudah mandi?” Hehehe… Memang, kalau urusan mandi sore ini saya adalah orang yang paling malas sejagat raya. Orang-orang kebanyakan pasti sudah mandi maksimal maghrib. Tapi untuk saya, paling cepat saya mau mandi adalah ba’da isya. Pernah juga, saking malasnya saya mandi, saya memutuskan untuk nggak mandi sekalian. Tapi nggak pernah bisa, karena saya akhirnya kepanasan, jadi nggak bisa tidur. Akhirnya, menjelang saya tidur (yang seringnya pukul 22.00 ke atas), saya bela-belain mandi biar tubuh saya nggak kepanasan lagi…


November tahun lalu saya didapuk oleh keluarga untuk jadi penerima tamu di resepsi pernikahan sepupu saya. Saya yang aslinya memang banci tampil pertamanya menolak, saya ini kan pemalu… Huhuhu… Tapi, saya juga pengen, soalnya dengan jadi penerima tamu, perhatian pertama para tamu pastilah ke kami, karena kami yang menyambut kehadiran mereka. Yah, walau pun saat sudah masuk perhatian mereka beralih ke mempelai perempuan, paling nggak saya pernah mendapatkan perhatian itu. Kapan lagi bisa didandanin cantik tanpa mengeluarkan sepeser ruapiah pun, mendapat perhatian banyak orang, dan mendapat pengalaman tak terlupakan, foto bersama mempelai dengan kondisi sama-sama cantiknya… Hmmm… Akhirnya saya pun mengiyakan.


Sehabis foto itu saya dapat, langsung saya masukkan ke binder yang selalu saya bawa kemana-mana. Saya letakkan di cover, biar orang-orang tahu, itu lho wajah saya kalau didandanin cakep… Mengingat saya ini perempuan paling antik, males kalau disuruh dandan. Orang kalau pergi aja saya cuma pakai bedak dan parfum doang! Setiap ada orang yang melihat foto itu, hampir pasti mereka mempertanyakan hal yang sama. Kalau nggak, “Yang mana nih, pengantinnya?” ya, “Nia, kapan nyusul?”


Always, always, and always be there…
Sebel juga sih, tapi saya menikmati diledekin kayak gitu. Saya anggap itu adalah doa mereka supaya saya bisa segera menyusul. Itulah sebabnya saat pernikahan Mbak Wi ini, sebelum saya diminta saya bahkan menawarkan diri, “Mbak Wi, ga butuh bantuan untuk jadi penerima tamu, ta?”


Hahaha… Katanya pemalu… Kalo kayak gini sih bukannya pemalu, malu-maluin iya…
Wkwkwk… Mbak Wi Cuma njawab, “Yomes…”


Haduh…
Ya gini ini risikonya kalau hidup sama orang yang nggak sedaerah sama kita. Banyak kosa kata baru yang muncul di percakapan sehari-hari. “Apaan yomes?” tanya saya. Sambil ketawa, Mbak Wi jawab, “Yo mestilah…”


Dueng… Kirain apaan, Mbak Wi…


Tapi sampai undangan pernikahan itu disebar ke seluruh penjuru rumah, Mbak Wi nggak memberi kabar kalau saya ini jadi atau nggak disewa badannya untuk jadi penerima tamu. Kepastian itu saya dapat saat H-1! Hahaha… Ya begini ini kalau baru sekali jadi manten, belum pengalaman… Ups… Bukannya saya mendoakan Mbak Wi untuk jadi manten berkali-kali… Cuma etisnya kan siapa aja yang dijadiin panitia sudah harus ditentukan jauh-jauh hari… Untung aja saya bisa berangkat hari ini, padahal rencananya saya berangkat besok…


Hmmm…
Untuk Mbak Wi, saya persembahkan sebuah nasyid romantis kesukaan saya, Barakallah yang dinyanyikan oleh Aa’ Maher Zain…Semoga pernikahan anti dengan si Uda diberkahi oleh Allah, dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kekal sampai maut memisahkan. Amiin…


Nia sayang Mbak Wi…

Jumat, 25 Juni 2010

apalah arti sebuah nama?

Membaca judul posting di atas pastilah membuat Anda teringat dengan penulis yang namanya abadi sepanjang masa, William Shakespeare. Dalam novelnya yang berjudul Romeo and Juliet (1595), Shakespeare menuliskan kata-kata yang diucapkan Romeo, salah satu tokoh penting dalam novel itu. "What's in a name? That which we call a rose by any other word would smell as sweet." Karena novel tersebut akhirnya difilmkan dan booming, kata-kata itu pun menjadi kata-kata yang biasa dikutip seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, apa arti dari nama blog ini? milanbarcasamasaja.blogspot.com

Hmmm...

Kata milan saya ambil dari sebuah julukan klub sepak bola favorit saya, Associazione Calceo Milan atau yang lebih dikenal dengan kata AC Milan. Klub ini berasal dari Milan, Italia. Di Milan sendiri, klub sepak bola yang terkenal ada dua, yaitu AC Milan dan Inter Milan. AC Milan biasa disebut Milan sementara untuk menyebut Inter Milan, orang-orang menyingkatknya menjadi Inter. Jadi, kalau ada orang yang menyebut sebuah klub sepak bola bernama Milan, itu merujuk ke AC Milan, bukan Inter Milan walau keduanya sama-sama berasal dari Milan. Selain Milan, klub milik Silvio Berlusconi ini juga memiliki beberapa julukan lain. Di antaranya, Il Diavolo Rosso (setan merah) dan Rossoneri (merah-hitam).

Kalau kata barca, itu saya ambil dari (lagi-lagi) klub sepak bola favorit saya, Barcelona Futbol Club. Klub ini berasal dari kota yang namanya sama dengan nama klubnya yaitu Barcelona, Spanyol. Klub ini adalah salah satu dari dua klub Spanyol yang berkibar tinggi di bumi Matador selain Real Madrid. Barca sendiri merupakan sebutan yang lebih singkat dari Barcelona sendiri. Selain Barca, Barcelona juga mempunyai beberapa julukan lain yaitu Los Azulgrana dan El Blaugran.

Sedangkan sama saja itu adalah hal yang sepele. Maksudnya, dua-duanya itu sama saja buat saya, alias sama-sama saya suka. Hehehe... Jadi, kalau dua tim itu berhadapan di lapangan hijau, saya nggak akan memberikan pendapat mana yang akan menang karena keduanya saya suka. Itulah yang saya maksud sama saja.

Sekian posting saya kali ini. Nantikan terus tulisan saya di posting selanjutnya.
(www.guemulailebai.com)



Blogspot Template by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Home Interiors