Saya ini jadi seorang gibol sejak Piala Dunia 2002 Korsel-Jepang. Saat itu lagi rame-ramenya keluarga saya ngumpul. Ada aba, ada umi, ada mas, dan ada saya di ruang keluarga yang sempit tapi hangat... Rasanya pengen kembali ke masa itu....
Saat itu pertama kalinya saya bersentuhan dengan sepak bola. Gara-gara demam bola, mas saya beli segepok kartu pemain bola lengkap dengan foto dan identitas klubnya. Nah, kartu pertama yang saya sentuh adalah yang bergambar Filippo Inzaghi yang masih berkostum Juventus. Sejak saat itu pula, langsung saya ngefans banget sama yang namanya Inzaghi, walau belakangan saya tahu bahwa sejak 2001, dia sudah nggak di Juve lagi. Bahkan, saking cintanya sama Inzaghi, saya memakai namanya dalam salah satu email saya (milania_inzaghi@yahoo.co.id). Hihihi... Itu juga yang membuat saya cinta mati sama AC Milan, walau dalam keseluruhan kariernya tak hanya dihabiskan di Milan saja, tapi di klub itulah dia meraih kesuksesan.
Sejak 2002 pula saya memutuskan untuk 100% jadi gibol. Saya bersedia jadi Milanisti (sebutan untuk penggemar AC Milan, bahkan saya sampai membuat julukan sendiri: milania, yang artinya Milanisti bernama nia, hehehe.. maksa ya??) dan totally jadi tifosi setia Gli Azzurri (sebutan timnas Italia).
Maka, ketika piala dunia edisi ke- 19 yang dilaksanakan untuk pertama kalinya di benua Afrika, tepatnya di negara Afrika Selatan, tanpa ragu lagi saya menjagokan Itali untuk keluar sebagai juara. Selain karena cinta saya pada Gli Azzurri, status Italia sebagai juara bertahan dengan pelatih dan komposisi tim yang hampir sama dengan empat tahun lalu membuat saya yakin, Italia pasti bisa juara lagi!
Namun, apa yang terjadi sungguhlah di luar dugaan saya dan jauh dari prediksi siapa pun. Di babak kualifikasi grup, banyak tim-tim unggulan dari Eropa yang gagal meraih poin sempurna pada laga perdana. Dimulai dari Prancis yang ditahan imbang oleh Uruguay, kemudian Inggris dipaksa berbagi skor dengan Amerika Serikat akibat blunder sang kiper, Robert Green, lalu Italia yang juga seri melawan Paraguay, dan kekalahan sensasional Spanyol oleh Swiss..
Inilah Piala Dunia.
Selalu ada kisah di setiap perhelatannya. Entah kisah manis atau pahit, inilah Piala Dunia. Kegagalan Prancis untuk lolos di babak knock-out bahkan terjadi di dalam dan di luar lapangan. Italia yang hanya butuh hasil imbang untuk lolos pun dipaksa pulang kampung lebih dini oleh Slovakia pada lada pamungkas dengan skor tipis 2-3.
Yah, inilah Piala Dunia. Apa pun bisa terjadi...
Amerika Latin menjadi zona tersukses pada ajang ini. Meloloskan lima wakilnya ke babak 16 besar yaitu Uruguay, Argentina, Brazil, Paraguay, dan Cile. Berbeda dengan zona Amerika Utara dan Tengah yang hanya dua oleh Meksiko dan Amerika Serikat, zona Asia juga menyumbang dua delegasi lewat Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan benua yang harusnya bergembira dengan adanya penyelenggaraan Piala Dunia kali ini, Afrika, hanya meloloskan satu saja wakilnya yaitu Ghana. Sisanya dari benua Eropa yang diwakili oleh Inggris, Jerman, Belanda, Slovakia, Portugal, dan Spanyol.
Takdir yang menyebabkan Inggris dan Jerman bersua lebih dini. Kenyataan bahwa kegagalan Inggris melenggang ke babak yang lebih jauh ini disebabkan oleh keputusan wasit yang tidak mengesahkan gol Frank Lampard membuat saya berpikir, dalam sepak bola, selain faktor skill dan mental, faktor lain-lain juga harus diperhitungkan. Andai saja waktu itu wasit Larrionda mengesahkan gol itu, tentu ceritanya akan lain.
Yah, lagi-lagi yang bisa saya katakan, inilah sepak bola.
Inilah Piala Dunia.
Sejak babak knock-out dimulai, saya berharap agar ada pertandingan yang berakhir dengan drama adu penalti. Karena jagoan saya Italia sudah tersisih, praktis hanya ada Argentina yang menjadi tumpuan harapan saya. Pasukan Diego Armandi Maradona telah memastikan satu tiket di perempat final setelah menghempaskan Meksiko dengan skor 3-1, walau dengan kontroversial akibat keputusan wasit Rosetti yang mengesahkan gola Tevez yang pertama.
Karena itu, saya pun tenang-tenang saja mengharapkan adanya sebuah drama yang benar-benar mengandalkan faktor mental dan keberuntungan ini. Toh, Argentina udah lolos aja, begitu pikir saya...
Hanya saja, kenapa harapan saya itu baru terkabul ketika laga yang mempertemukan satu-satunya sisa harapan Asia setelah Korsel terjungkal oleh pasukan Uruguay?? Jepang akhirnya dipaksa pulang kampung setelah kalah 3-5 oleh Paraguay setelah dua jam pertandingan tidak ada satu pun gol yang tercipta. Dari pertandingan ini, jelas terlihat bahwa Jepang merupakan tim kuat, yang mampu bersaing dengan negara-negara lain. Hanya keberuntungan saja yang menggagalkan langkahnya setelah tendangan ketiga Jepang oleh Kamano membentur mistar gawang...
Hilanglah sudah satu-satunya peluang Asia untuk berpesta di ajang ini. Hanya negara-negara yang memang kuat secara keseluruhan (baca: skill, mental, dan dewi fortuna) sajalah yang bisa lolos ke babak 8 besar.
Semoga masih ada cerita lagi di Piala Dunia kali ini.
Dan semoga kisah itu tidak hanya bersumber pada keberuntungan semata, demi tercapainya kisah dramatis dan abadi dalam pesta akbar sepak bola sejagad raya ini...
Waka Waka, Africa!!!
Saat itu pertama kalinya saya bersentuhan dengan sepak bola. Gara-gara demam bola, mas saya beli segepok kartu pemain bola lengkap dengan foto dan identitas klubnya. Nah, kartu pertama yang saya sentuh adalah yang bergambar Filippo Inzaghi yang masih berkostum Juventus. Sejak saat itu pula, langsung saya ngefans banget sama yang namanya Inzaghi, walau belakangan saya tahu bahwa sejak 2001, dia sudah nggak di Juve lagi. Bahkan, saking cintanya sama Inzaghi, saya memakai namanya dalam salah satu email saya (milania_inzaghi@yahoo.co.id). Hihihi... Itu juga yang membuat saya cinta mati sama AC Milan, walau dalam keseluruhan kariernya tak hanya dihabiskan di Milan saja, tapi di klub itulah dia meraih kesuksesan.
Sejak 2002 pula saya memutuskan untuk 100% jadi gibol. Saya bersedia jadi Milanisti (sebutan untuk penggemar AC Milan, bahkan saya sampai membuat julukan sendiri: milania, yang artinya Milanisti bernama nia, hehehe.. maksa ya??) dan totally jadi tifosi setia Gli Azzurri (sebutan timnas Italia).
Maka, ketika piala dunia edisi ke- 19 yang dilaksanakan untuk pertama kalinya di benua Afrika, tepatnya di negara Afrika Selatan, tanpa ragu lagi saya menjagokan Itali untuk keluar sebagai juara. Selain karena cinta saya pada Gli Azzurri, status Italia sebagai juara bertahan dengan pelatih dan komposisi tim yang hampir sama dengan empat tahun lalu membuat saya yakin, Italia pasti bisa juara lagi!
Namun, apa yang terjadi sungguhlah di luar dugaan saya dan jauh dari prediksi siapa pun. Di babak kualifikasi grup, banyak tim-tim unggulan dari Eropa yang gagal meraih poin sempurna pada laga perdana. Dimulai dari Prancis yang ditahan imbang oleh Uruguay, kemudian Inggris dipaksa berbagi skor dengan Amerika Serikat akibat blunder sang kiper, Robert Green, lalu Italia yang juga seri melawan Paraguay, dan kekalahan sensasional Spanyol oleh Swiss..
Inilah Piala Dunia.
Selalu ada kisah di setiap perhelatannya. Entah kisah manis atau pahit, inilah Piala Dunia. Kegagalan Prancis untuk lolos di babak knock-out bahkan terjadi di dalam dan di luar lapangan. Italia yang hanya butuh hasil imbang untuk lolos pun dipaksa pulang kampung lebih dini oleh Slovakia pada lada pamungkas dengan skor tipis 2-3.
Yah, inilah Piala Dunia. Apa pun bisa terjadi...
Amerika Latin menjadi zona tersukses pada ajang ini. Meloloskan lima wakilnya ke babak 16 besar yaitu Uruguay, Argentina, Brazil, Paraguay, dan Cile. Berbeda dengan zona Amerika Utara dan Tengah yang hanya dua oleh Meksiko dan Amerika Serikat, zona Asia juga menyumbang dua delegasi lewat Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan benua yang harusnya bergembira dengan adanya penyelenggaraan Piala Dunia kali ini, Afrika, hanya meloloskan satu saja wakilnya yaitu Ghana. Sisanya dari benua Eropa yang diwakili oleh Inggris, Jerman, Belanda, Slovakia, Portugal, dan Spanyol.
Takdir yang menyebabkan Inggris dan Jerman bersua lebih dini. Kenyataan bahwa kegagalan Inggris melenggang ke babak yang lebih jauh ini disebabkan oleh keputusan wasit yang tidak mengesahkan gol Frank Lampard membuat saya berpikir, dalam sepak bola, selain faktor skill dan mental, faktor lain-lain juga harus diperhitungkan. Andai saja waktu itu wasit Larrionda mengesahkan gol itu, tentu ceritanya akan lain.
Yah, lagi-lagi yang bisa saya katakan, inilah sepak bola.
Inilah Piala Dunia.
Sejak babak knock-out dimulai, saya berharap agar ada pertandingan yang berakhir dengan drama adu penalti. Karena jagoan saya Italia sudah tersisih, praktis hanya ada Argentina yang menjadi tumpuan harapan saya. Pasukan Diego Armandi Maradona telah memastikan satu tiket di perempat final setelah menghempaskan Meksiko dengan skor 3-1, walau dengan kontroversial akibat keputusan wasit Rosetti yang mengesahkan gola Tevez yang pertama.
Karena itu, saya pun tenang-tenang saja mengharapkan adanya sebuah drama yang benar-benar mengandalkan faktor mental dan keberuntungan ini. Toh, Argentina udah lolos aja, begitu pikir saya...
Hanya saja, kenapa harapan saya itu baru terkabul ketika laga yang mempertemukan satu-satunya sisa harapan Asia setelah Korsel terjungkal oleh pasukan Uruguay?? Jepang akhirnya dipaksa pulang kampung setelah kalah 3-5 oleh Paraguay setelah dua jam pertandingan tidak ada satu pun gol yang tercipta. Dari pertandingan ini, jelas terlihat bahwa Jepang merupakan tim kuat, yang mampu bersaing dengan negara-negara lain. Hanya keberuntungan saja yang menggagalkan langkahnya setelah tendangan ketiga Jepang oleh Kamano membentur mistar gawang...
Hilanglah sudah satu-satunya peluang Asia untuk berpesta di ajang ini. Hanya negara-negara yang memang kuat secara keseluruhan (baca: skill, mental, dan dewi fortuna) sajalah yang bisa lolos ke babak 8 besar.
Semoga masih ada cerita lagi di Piala Dunia kali ini.
Dan semoga kisah itu tidak hanya bersumber pada keberuntungan semata, demi tercapainya kisah dramatis dan abadi dalam pesta akbar sepak bola sejagad raya ini...
Waka Waka, Africa!!!

0 komentar:
Posting Komentar