Hiks…
Rasanya sedih juga kalau harus kehilangan satu saudara yang akan memulai babak baru dalam kehidupannya. Eh, bukan kehilangan sih… Lebih tepat kalau disebut merelakan. Karena Mbak Wi akan tetap ada di Surabaya karena pekerjaannya memang mengharuskan beliau ada di sana, nomor Mbak Dwi akan tetap aktif seperti yang saya punya, dan rumahnya pun saya akan tahu karena nanti sore saya akan melancong ke sana.
Yang berbeda hanyalah intensitas pertemuan kami yang sebelumnya jarang menjadi sangat jarang. Mengapa saya bilang begitu? Karena saya, si pengacara alias pengangguran banyak acara, lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah (kontrakan saya di Surabaya). Kebanyakan di kampus, entah urusan BEM, urusan UKM, atau urusan ge petege (baca: ga penting) lainnya. Sementara Mbak Wi (nama aslinya Dwi Wulandari), kerja sebagai guru sains di SMP Al-Falah, sebuah full day school ternama di kawasan Rungkut sana. Jadi, beliau baru pulang saat sore menjelang maghrib. Itu pun dalam kondisi yang sepertinya capek (karena saya nggak tahu pasti, beliau nggak pernah cerita juga soalnya…). Karena itu, waktunya di rumah lebih banyak dihabiskan di kamarnya yang berada di belakang, sementara kamar saya ada di depan. Mau sering ketemu gimana, coba?
Satu hal yang pasti akan saya rindukan dari Mbak Wi. Setelah beliau nggak tinggal di rumah yang sama dengan saya, tak ada lagi yang akan rutin menanyakan hal yang sama setiap ba’da isya, “Niake, sudah mandi?” Hehehe… Memang, kalau urusan mandi sore ini saya adalah orang yang paling malas sejagat raya. Orang-orang kebanyakan pasti sudah mandi maksimal maghrib. Tapi untuk saya, paling cepat saya mau mandi adalah ba’da isya. Pernah juga, saking malasnya saya mandi, saya memutuskan untuk nggak mandi sekalian. Tapi nggak pernah bisa, karena saya akhirnya kepanasan, jadi nggak bisa tidur. Akhirnya, menjelang saya tidur (yang seringnya pukul 22.00 ke atas), saya bela-belain mandi biar tubuh saya nggak kepanasan lagi…
November tahun lalu saya didapuk oleh keluarga untuk jadi penerima tamu di resepsi pernikahan sepupu saya. Saya yang aslinya memang banci tampil pertamanya menolak, saya ini kan pemalu… Huhuhu… Tapi, saya juga pengen, soalnya dengan jadi penerima tamu, perhatian pertama para tamu pastilah ke kami, karena kami yang menyambut kehadiran mereka. Yah, walau pun saat sudah masuk perhatian mereka beralih ke mempelai perempuan, paling nggak saya pernah mendapatkan perhatian itu. Kapan lagi bisa didandanin cantik tanpa mengeluarkan sepeser ruapiah pun, mendapat perhatian banyak orang, dan mendapat pengalaman tak terlupakan, foto bersama mempelai dengan kondisi sama-sama cantiknya… Hmmm… Akhirnya saya pun mengiyakan.
Sehabis foto itu saya dapat, langsung saya masukkan ke binder yang selalu saya bawa kemana-mana. Saya letakkan di cover, biar orang-orang tahu, itu lho wajah saya kalau didandanin cakep… Mengingat saya ini perempuan paling antik, males kalau disuruh dandan. Orang kalau pergi aja saya cuma pakai bedak dan parfum doang! Setiap ada orang yang melihat foto itu, hampir pasti mereka mempertanyakan hal yang sama. Kalau nggak, “Yang mana nih, pengantinnya?” ya, “Nia, kapan nyusul?”
Always, always, and always be there…
Sebel juga sih, tapi saya menikmati diledekin kayak gitu. Saya anggap itu adalah doa mereka supaya saya bisa segera menyusul. Itulah sebabnya saat pernikahan Mbak Wi ini, sebelum saya diminta saya bahkan menawarkan diri, “Mbak Wi, ga butuh bantuan untuk jadi penerima tamu, ta?”
Hahaha… Katanya pemalu… Kalo kayak gini sih bukannya pemalu, malu-maluin iya…
Wkwkwk… Mbak Wi Cuma njawab, “Yomes…”
Haduh…
Ya gini ini risikonya kalau hidup sama orang yang nggak sedaerah sama kita. Banyak kosa kata baru yang muncul di percakapan sehari-hari. “Apaan yomes?” tanya saya. Sambil ketawa, Mbak Wi jawab, “Yo mestilah…”
Dueng… Kirain apaan, Mbak Wi…
Tapi sampai undangan pernikahan itu disebar ke seluruh penjuru rumah, Mbak Wi nggak memberi kabar kalau saya ini jadi atau nggak disewa badannya untuk jadi penerima tamu. Kepastian itu saya dapat saat H-1! Hahaha… Ya begini ini kalau baru sekali jadi manten, belum pengalaman… Ups… Bukannya saya mendoakan Mbak Wi untuk jadi manten berkali-kali… Cuma etisnya kan siapa aja yang dijadiin panitia sudah harus ditentukan jauh-jauh hari… Untung aja saya bisa berangkat hari ini, padahal rencananya saya berangkat besok…
Hmmm…
Untuk Mbak Wi, saya persembahkan sebuah nasyid romantis kesukaan saya, Barakallah yang dinyanyikan oleh Aa’ Maher Zain…Semoga pernikahan anti dengan si Uda diberkahi oleh Allah, dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kekal sampai maut memisahkan. Amiin…
Nia sayang Mbak Wi…

0 komentar:
Posting Komentar